cool hit counter

PDM Kota Magelang - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kota Magelang
.: Home > Sejarah

Homepage

REKAM JEJAK GERAKAN MUHAMMADIYAH KOTA MAGELANG


 

Kota Magelang terletak pada koordinat 70 LS dan 110 BT. Kota terkecil di Jawa Tengah ini secara geografis menempati posisi sangat strategis karena terletak tepat di tengah pulau Jawa dan berada di persimpangan jalur utama, Yogyakarta – Semarang, Yogyakarta – Wonosobo dan Semarang – Kebumen – Cilacap. Jaraknya 65 km dari Semarang dan 42 km dari Yogyakarta.

Kota Magelang adalah salah satu kota di Provinsi Jawa Tengah. Kota Magelang terletak di tengah-tengah Kabupaten Magelang karena memang dulunya Kota Magelang adalah kota dari Kabupaten Magelang sebelum adanya kebijakan untuk mengurus rumah tangga sendiri sebagai sebuah kota baru. Kota Magelang termasuk kota yang cukup strategis karena pada waktu itu menjadi  kota Karesidenan Kedu, satu dari enam karesidenan yang ada di Jawa Tengah. Karesidenan Kedu terdiri dari Kabupaten Magelang, Kota Magelang, Purworejo, Kebumen, Temanggung, dan Wonosobo.

Posisi Kota Magelang pada tahun 1970 paling tidak memiliki tiga posisi dalam pemerintahan, yaitu sebagai Kotamadya Magelang, sebagai kota Kab. Magelang, dan sebagai pusat Karesidenan Kedu. Karena Kodia Magelang sejarahnya adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Magelang, menyebabkan sebagian penggerak Muhammadiayah memiliki kepengurusan ganda, yaitu menjadi pengurus PDM Kodia sekaligus menjadi pengurus PDM kabupaten. Kondisi tersebut berlangsung sampai dengan Tahun 1983 yang menyebabkan kodya dan kabupaten seolah-olah satu mata uang yang memiliki dua sisi. Magelang sebagai  kota Karesidenan Kedu menyebabkan adanya organisasi koordinator cabang atau konsul Muhammadiyah yang kemudian berubah nama menjadi PMD Kedu. Dengan status tersebut menyebabkan kerancuan di kemudian hari, terutama polemik tentang PDM Kabupaten dan Kodya Magelang.

 

Sosok Penting Berdirinya Muhammadiyah Kota Magelang

Magelang sebagai salah satu daerah yang secara geografis dekat dengan Yogyakarta sehingga K.H. Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah menjadi tokoh yang sering menginjakkan kaki di Magelang dalam memberikan pembelajaran kepada umat. Masuknya K.H. Ahmad Dahlan di Magelang ke wilayah-wilayah strategis pemerintahan penjajah pada saat itu dengan mengajar ekstrakurikuler agama Islam setiap hari Sabtu di MOSVIA (Sekolah Pamong Praja) yang terletak di selatan aloon-aloon Magelang.

Keberadaan Kyai Dahlan dalam membangun spirit perjuangan kebangsaan bagi anak-anak negeri di Magelang ternyata membuahkan hasil. Sebut saja tokoh perjuangan kemerdekaan yang juga menjadi politisi serta anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yaitu Prof. Kasman Singodimejo. Selain itu, beliau juga tokoh Muhammadiyah di Purworejo. Tokoh yang lain yang dikenal sebagai residen kedu yang memiliki apresiasi positif terhadap Muhammadiyah adalah Raden Muhammad Saleh.(Nashirudin, dkk 2006 : 278-279).

Eksistensi Muhammadiyah Kota Magelang diawali oleh keberadaan K.H. Muhammad Asyhoeri yang pada waktu itu menjadi perwakilan Muhammadiyah Pusat (Konsul) Daerah Karesidenan Kedu dengan nomor pokok anggota Muhammadiyah 12031 (lama) dan 41224 (baru). Bahkan, beliau pada tanggal  29 April 1933 menjadi pengamat/ Pegawas Mubaligh Muhammadiyah dalam Blok XVI sekitar Kedu Selatan. Beliau juga pernah belajar Qira’at Al Qur’an sekitar tahun 1911 – 1914   kepada Almarhum K.H. Munawir Krapyak Yogyakarta.

Darah ulama yang kental pada keluarga K.H. Muhammad Asyhoeri menjadi modal yang berharga bagi penambahan ilmu-ilmu keagamaan. Ayahandanya, K.H. Jalal Suyuthi, menjadi guru fiqih, sedangkan kakaknya, almarhum K.H. Amir menjadi guru hadis. Oleh karena itu, pria yang akrab dipanggil Kyai Asyhoeri itu menjadi seseorang yang penting dalam perjalanan Muhammadiyah Kota Magelang.

Perkembangan Muhammadiyah Kota Magelang juga tidak terlepas dari sosok Fadjar Martodihardjo. Beliau pernah mengenyam pendidikan di SR Katholik Bendo tidak sampai selesai kemudian melanjutkan di NormalSchool Salatiga selama empat tahun. Setelah lulus dari sekolah tersebut beliau mengajar di Sekolah Muhammadiyah yang berada di Ngupasan  Gondomanan Yogyakarta. Selain kesukannya sebagai pengajar, beliau juga mengasuh Wustho Alimin serta menjadi guru SR di Bantul. Karena kecintaannya terhadap Magelang, beliau pulang ke tanah kelahirannya dengan mendirikan SD Muhamamdiyah yang berada di Borobudur. Rasa kepemilikan terhadap persyarikatan Muhammadiyah beliau wujudkan dengan cara tidak kenal lelah untuk terus mengurusi Muhammadiyah di Kota Magelang dan bahkan menjadi salah satu pendiri SD Muhammadiyah 1 Kota Magelang.

Seiring perkembangan Muhammadiyah di Karesidenan Kedu, muncullah pembentukan Muhammadiyah Kota Magelang yang pada waktu itu merupakan Cabang dari Muhammadiyah Kab/ Kota Magelang. Waktu itu sebagai ketuanya adalah K.H. Suaman Habib yang merupakan ayah dari H. Nasirudin Hadi, H. Asroroeddin Hadi, dan Machmoed Hadi, sekaligus merupakan tokoh Muhammadiyah yang dekat dengan K.H. A.R. Fahrudin. K. Asyhoeri bahkan salah satu dari 5 orang yang ditunjuk sebagai penghulu Republik Indonesia pertama di Yogyakarta.

Selain tokoh-tokoh tersebut, perkembangan Muhammadiyah Kota Magelang dalam mencetak generasi penerus pejuang Muhammadiyah juga tidak terlepas dari sosok Soemo Atmodjo. Beliau merupakan tokoh Muhammadiyah Kota Magelang yang secara spesifik mengurusi bidang Pendidikan Muhammadiyah di Kota Magelang.

 

Perkembangan Muhammadiyah Kota Magelang

Ghiroh ber-Muhammadiyah yang dicontohkan tokoh-tokoh tersebut menjadikan kelahiran Muhammadiyah Kota Magelang tidak terlepas dari semangat untuk mewujudkan masyarakat yang berbasis ke-Islaman, kebangsaan, dan kenegaraan. Ada beberapa temuan sejarah sekitar tahun 1970-an – 1980-an bahwa PDM Kabupaten Magelang masih menganggap bahwa PDM Kota Magelang sebagai cabang dari PDM Kabupaten Magelang. Akan tetapi, sejatinya PDM Kota Magelang berdiri pada tahun 1970. 

Keberlangsungan Muhammadiyah Kota Magelang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan sehingga berbagai inovasi dilakukan. Salah satu kegiatan yang dilakukan  adalah memfasilitasi pemerintah untuk mendirikan PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) di tanah milik Muhammadiyah. Sekolah tersebut menjadi salah satu model pendidikan ke-Islaman sebagai pencetak calon guru agama Islam yang berada di Magelang. Alumni sekolah tersebut, adalah Prof. Drs. H..Malik Fadjar dan H. Muhlas Abror. Berdirinya sekolah tersebut tidak lain adalah inisiatif Departemen Sosial Republik Indonesia. Pada saat itu yang menjabat sebagai mentrinya adalah Mulyadi. Seiring perkembangan waktu  PGAN mampu membeli tanah dan mendirikan gedung baru. Selanjutnya gedung lama diserahkan kepada Muhammadiyah yang dijadikan untuk SMK Muhammadiyah Kota Magalang yang semula berada di Karangkidul.

Aktivitas dakwah Muhammadiyah pada saat itu mengalami peningkatan seiring dengan berbagai kegiatan keagamaan di Kompleks Muhammadiyah Kota Magelang. Kegiatan yang dilakukan adalah kuliah subuh, Salat Idul Fitri/ Adha. Kompleks ini sekaligus dijadikan tempat perkuliahan cabang IKIP Cabang Muhammadiyah Jakarta,  IAIN Surakarta, yang merupakan cikal bakal berdirinya Universitas Muhammadiyah Magelang. Bahkan, dalam catatan sejarah yang berhasil ditemukan, di tempat yang sama pernah didirikan Madrasah Mu’alimin Muhammadiyah Magelang. Namun, karena tidak mendapatkan siswa, keberadaannya tidak dapat dilanjutkan. Selain pernah dirikan Madrasah, di kompleks yang sama juga didirikan PGA 4 tahun.

 Kebijakan Muhammadiyah Kota Magelang dalam menatap abad 2

Diantara beberapa upaya yang dilakukan Muhammmadiyah Kota Magelang dalam menatap fajar baru peradaban umat aalah dengan Pertama: penguatan organisasi di semua lini mulai dari PDM sampai Ranting Muhammadiyah dengan memberi prioritas penguatan kinerja pimpinan, pemantapan manajemen, dan perluasan jaringan Organisasi. Kedua, penguatan kualitas lembaga dan amal usaha Muhammadiyah sehingga persyarikatan berfungsi optimal sebagai gerakan dakwah amar ma`ruf nahi munkar. Ketiga, pengembangan tajdid dibidang tarjih dan pemikiran Islam sesuai kemampuan daerah dengan mengimplementasikan tauhid sosial, dakwah jamaah dengan tetap memperhatikan prinsip dasar organisasi, dan nilai Islam yang hidup dan menggerakkan. Keempat, peningkatan peran serta Muhammadiyah Kota Magelang dalam pemberdayaan masyarakat termasuk advokasi terhadap  kebijakan publik pemerintah setempat yang menyangkut hakikat hidup rakyat Magelang. Kelima, pengembangan kader baik dalam peningkatan kualitas kader, pimpinan, maupun anggota sebagai pelaku gerakan. Keenam, mengimbau pimpinan Muhammadiyah di semua tingkat untuk mengintensifkan pedoman keluarga sakinah untuk menghadang arus negatif budaya global dan kebijakan membangun sarana fisik SMP Muhammadiyah sebagai pusat pengembangan pendidikan menengah yang berlabel Islam. Ketujuh, perencanaan mendirikan pesantren sebagai pusat penggemblengan calon-calon mubaligh/ mubalighat yang terasa sangat dibutuhkan persyarikatan sebagai kader penerus dan mengisi “kekosongan” profesi da’i di lingkungan Muhammadiyah. Kedelapan, pembangunan gedung library center dan laboratorium bahasa SD Muhammadiyah 1 Alternatif Kota Magelang serta mencanangkan SMP Muhammadiyah pre internasional Islamic School,  SMA Muhammadiyah 1 Kota Magelang sebagai pusat robotik dan SMK Muhammadiyah sebagai businese center yang diresmikan ole PP Muhammadiyah Prof. Dr. H. Din Syamsudin, MA pada tanggal 8 Desember 2012. 


Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website